Minggu, 21 Juni 2020

Juara 2 Lomba Cerpen Dies Natalis HIMAGRI ke-17

Disarankan ketika membaca cerita ini sambil dibarengi mendengar lagu
Oh my angel oleh CHAI ost angel last mission

Lukisan Lautan yang Memudar
Karya: Alda Putri. i. N

”Apakah kamu pernah mendengar seperti apa nyanyian sebuah batu, jika jawabmu adalah tidak maka kebalikan darimu aku akan menjawab iya”.
DAYONG

       Kala mentari menyinari di seberang busur langit hitam aku menatap dan hanya menatap kearah langit, kemudian ku bertanya dalam benak ada apa dan mengapa, kenapa semua ini memetakan hatiku dengan mudah di lubang sepi sehingga pada kala itu air yang lembut bisa menerjang hatiku dengan keras.
     Semua tentang hari itu semuanya adalah keramat kelam dalam hidupku, seakan-akan dua buah borgol besi berkarat sedang memenjarakan aku dengan keindahan yang lelap dimakan waktu. Jika kamu tidak mengerti seharusnya kau bertanya, kenapa kau selalu diam dan membelakangiku dengan kalimat aku baik-baik saja.
    Kenapa kau berusaha bersembunyi!! Segera keluar aku sangat membencinya, kenapa kamu terus bersembunyi dalam dinginnya dunia ini. Aku mohon lepaskan aku dari jeratanmu! lepaskan aku dari setiap inci penyiksaanmu aku membenci setiap kalimat yang selalu kau katakan. Setiap kalimat yang selalu membuatku berada di puncak kebodohan.
    “Aku baik-baik saja, cobalah kau tersenyum, ayo kita tertawa, ayo kita menari, lihat-lihat ini! bukankah ini lucu, hei coba lakukan ini, wah ternyata kita mirip”. Kata –kata dan hanya kata-kata, padahal hanya itu namun setiap ingatan tentangmu selalu saja menyakitkan. Apa kau puas! Aku bertanya apa kau puas arghhhhhhh!!!!!
      Apa kau tau tempat ini sangat hampa tanpamu tempat dimana ingatan tentangmu menjadi meluas dan merebak dalam hatiku, senyumanmu selalu kulihat di tempat itu bahkan hangat dan harumnya bau tubuhmu masih kurasakan, aku tidak tau kamu sudah sampai mana setelah pergi meninggalkanku selama 9 tahun lamanya, bahkan mungkin kau tidak akan kembali lagi, karena waktu telah menjadikanmu kupu-kupu yang cantik di dunia lain dan menyiksaku dengan ingatanmu di dunia ini.
    Aku hanya ingin menceritakan ini padamu lautan yang kita tapaki 9 tahun lalu, lautan itu sudah tidak cantik lagi. Maaf jika kau kecewa begitupun aku, aku sangat kecewa kenapa aku dan orang-orang didalamnya sangat serakah hingga membuat tempat yang penuh kenangan ini hancur hanya dengan sentuhan kecil tangan manusia. Apa kau tau bukan hanya kau yang pergi namun lelaki tua yang sangat baik padaku serta kau juga. Ternyata sudah pergi meninggalkanku dan lebih memilih untuk menemuimu disana.
     Aku berharap tempatmu lebih baik daripada ditempatku sekarang, kau tidak akan pernah tau ternyata ditahun ini lebih banyak orang pergi ketempatmu dan meninggalkan bumi tua yang lusuh penuh penderitaan ini. Mereka pergi tanpa suara dan hanya meninggalkan beberapa angka nilai statiska yang mematikan telinga setiap manusia yang menyesal.
    Jika kau ada disini aku paham seperti apa pandangamu padaku, kamu akan tersenyum dan memegang pundakku kemudian kau akan bilang “hei aku tidak pernah melihatmu seperti ini? kenapa kamu serius banget sih ayo tersenyum ayo ayo seperti ini lihat ini”. Meski aku membenci kalimat itu, namun disaat aku sendiri di dalam dunia yang penuh penderitaan serta keserakahan ini, aku merasa hangat dan hanya dengan melihat garis wajahmu di langit aku menjadi hangat dan tidak kesepian.
    Ah sebelumnya aku minta maaf, aku telah menjadi pengecut aku sangat menyesalinya. Aku menyesal kenapa aku harus melihat senyum dan air mata terakhirmu dan kenapa semua manusia itu berbohong tentang dirimu? Kenapa harus aku yang tersiksa tanpa mengetahui apapun.
    Kadang kala aku menyempatkan sesekali pergi ke tempat kita, apa kau masih ingat lautan di depan rumahku, setiap gelombang ombaknya yang indah deruannya yang menggelitik pendengaran kemudian hembusan angin yang membuat tubuh mungil kita kedinginan sehingga beberapa tawa keluar dari mulut kita berdua, tempat itu berubah seperti waktuku yang tidak bisa mendapatkan penggantimu, tempat itu menjadi kotor seperti diriku, bahkan kamu tidak bisa menemukan lagi batu harapan yang selalu kita apungkan di atas ombak, aku hanya ingin tau apa harapanmu kala itu aku penasaran.
     Batu itu mengapung seperti harapanku saat itu aku berharap kau menjadi sesuatu yang indah dalam hidupku dan tidak pernah pergi meninggalkanku namun sepertinya harapanmu berbeda dariku. Apa kau tau sekarang ombak itu sedang menyerangku setiap hari, bahkan deruannya selalu membuat air mataku mengalir serta hanya dengan melihatnya saja membuatku sakit, terlebih lagi tempat itu tidak tampak seperti kenangan lalu kita, mungkin bagi sebagian orang ceritaku ini hanyalah fiksi cerita yang kuaransemen sendiri namun nyatanya memang selama pencarianku kenapa aku selalu mengingatmu dan tidak bisa bertahan dengan nama yang lain. Saat pertama kali melihatmu di taman kanak-kanak aku paham kenapa saat itu hatiku yang keras bisa lembut oleh hatimu bukan karena apa yang terbentuk di luarmu namun semua itu terbentuk di hatimu. Cara mu menjadikan istimewa adalah cara tulusmu untuk diam-diam berada dalam hidupku kemudian pergi dariku dengan cara yang bahkan tidak kusukai.
     Aku harap lautan itu tidak akan berubah dan bumi yang kutempati ini akan menjadi indah seperti tempat yang kau dan lelaki tua ku itu serta beberapa orang dengan nilai statiska itu tinggali. Aku harap setiap kenangan menyakitkan ini akan membangkitkanku untuk merubah tempat kenangan mu itu menjadi tempat yang persis seperti dahulu kemudian membuat semua orang yang ada disini paham mengenai keindahanmu lewat ceritaku serta aku harap setiap orang bisa mengapungkan batu harapan juga seperti kita dahulu dan mengucapkannya tanpa banyak suara dan hanya hati saja dan sang pencipta yang dapat mendengar.



“Terimakasih telah melembutkan setiap batu yang keras dalam hatiku, aku akan menerima penyesalan ini dan menerima setiap ingatan yang kau berikan ini, aku akan berusaha merubah apa yang harusnya seperti dulu adanya. Terimakasih untuk mencoba membuatku tersenyum dalam beberapa tahun lalu hingga kini”



Permohonan maaf kecil seorang batu yang keras
Seperti lagu yang aku sarankan diatas malaikatku sudah menyelesaikan misi terakhirnya dengan membuatku terbuka akan dunia yang penuh warna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LK 1 Padma Ksatria Tirtayasa 2025