Minggu, 20 September 2020

ARKEHIM "Tawadhu Dalam Keseharian"

 TAWADHU DALAM KESEHARIAN

https://harumn01.wordpress.com/2012/10/01/evaluasi-diri-kita-think-first-before-speak/

”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S Al-A’raf ayat 55)

Yang dimaksud merahasiakan do’a adalah berdo’a dengan suara lembut dan pelan. Karena memang Allah tidak menyukai orang yang meminta kepadanya dengan cara yang berlebihan. Orang yang sedang berdo’a kepada Allah tidak boleh melampaui batas, tidak boleh terlalu meninggikan suara dan membuat-buat ucapan-ucapan do’a.

Tawadhu artinya rendah hati, tidak sombong, lawan dari kata sombong atau takabur. Yaitu perilaku yang selalu menghargai keberadaan orang lain. Perilaku yang suka memuliakan orang lain, perilaku yang selalu suka mendahulukan kepentingan orang lain, perilaku yang selalu suka menghargai pendapat orang lain. 

Sikap tawadhu terhadap sesama manusia adalah sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan ke maha kuasaan Allah SWT atas segala hamba-Nya. 

Orang yang tawadhu menyadari bahwa apa saja yang dia miliki baik bentuk rupa yang cantik ataupun tampan, ilmu pengetahuan,harta kekayaan, maupun pangkat dan kedudukan. Semuanya itu adalah karunia dari Allah SWT. 

Allah SWT berfirman dalam Q.S An-Nahl : 53, yang artinya : “dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”

Dengan kesadaran seperti itu sama sekali tidak pantas bagi dia untuk menyombongkan diri sesama manusia, apalagi menyombongkan diri terhadap Allah SWT. 

Allah memerintahkan kepada umatnya untuk dapat melakukan sikap tawadhu terhadap Allah SWT dan sesama manusia. Sikap tawadhu terhadap Allah SWT ketika berdzikir, memohon, dan berdoa dengan cara suara yang pelan, sungguh-sungguh, tenang dan dengan perasaan takut, sedangkan sikap tawadhu terhadap sesama manusia yaitu merendahkan hatinya dengan patuh, berkata lemah lembut, dan sopan santun terhadap orang yang lebih tua yaitu seperti orang tua, guru, dan orang-orang yang lebih tua. 




Ditulis : Divisi Kerohanian

Dipublikasikan: Divisi Mading

Jumat, 04 September 2020

ARKEHIM "JADIKAN AKHIRAT SEBAGAI TUJUAN"

 JADIKAN AKHIRAT SEBAGAI TUJUAN


Sumber : https://www.islampos.com/antara-ikhtiar-dan-tawakal-itu-seharusnya-begini-125623/


Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân)

Sesungguhnya dunia hanyalah bersifat sementara, yang mana jika seseorang menjadikan dunia adalah segalanya maka semakin jauh dan terlena seseorang dalam kenikmatan dunia dan melupakan akhirat yang sejatinya adalah tujuan akhir kita sebagai makhluk Allah SWT.

Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dengan mengesampingkan akhiratnya, maka Allah pun akan menjadikan urusannya sulit dan berantakan serta menjadikan hati seorang hamba jauh dari kata bersyukur dan puas akan kenikmatan yang telah Allah beri.


Seorang hamba yang bertaqwa selalu menjadikan akhirat sebagai tujuan, sehingga menjadikan kita untuk terus berlomba-lomba mengerjakan perintah dan mengejar kebaikan, karena mereka menyadari bahwa semua yang berada di dunia akan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Selain itu, apabila seorang Muslim beriman dan bertakwa kepada Allah, maka ia akan diberi rezeki dari arah yang tidak diduga dan diberikan jalan keluar dari problematikanya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya…” (Ath-Thalaq/65:2-3)

Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64). 

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir, sehingga mendorong kita untuk terus bermuhasabah diri, menjalankan perintahnya dan terus berbuat baik. Yakinlah bahwa ketika mengejar akhirat maka dunia pun akan mengikuti, Allah juga akan permudah segala urusan dan keinginan kita di dunia.

Wallahu A’lam.



Ditulis: Divisi Kerohanian

Dipublikasikan : Divisi Mading

LK 1 Padma Ksatria Tirtayasa 2025