Meniti Jejak di Pandeglang
Karya: Resti.A.F
Karya: Resti.A.F
Rona jingga yang namanya senja telah nampak terlihat jelas di langit Serang . Lima jam sudah gelisah menemani di hari rabu mulai pukul satu. Begitu lama, tapi masih belum usai juga. Kuraih telepon genggam yang berada di atas nakas putih di sudut ruang kamar berukuran 4x4 meter ini. Tanpa pikir panjang, jemari menari dengan lihainya, mengetik pesan yang ditujukkan pada kontak bernamakan Kak Viko, dia adalah kakak tingkat sekaligus kakak bimbingku di jurusan Agroekoteknologi yang selalu memberikan arahan, masukan dan selalu membuatku tenang dalam setiap keadaan yang bimbang.
Sempat kesal, karena beberapa pesanku yang berisikan keluhan belum juga dia balas, bahkan dilihat pun belum. Tapi aku paham, karena dia masih berada di kampus. Viko termasuk salah satu mahasiswa aktif berorganisasi. Bukan hanya itu, dia juga memiliki banyak prestasi akademik mulai dari masanya duduk di bangku SD.
“Maaf ya de, kakak baru selesai rapat. Gimana sekarang masih gelisah? Mungkin kamu terlalu penat. Kalau gitu hari sabtu siapin waktu kosong ya” jawabnya 2 jam kemudian.
“Emang mau kemana kak?” tanyaku yang berakhir tanpa ia jawab.
***
Matahari berangsur menyeruakkan sinarnya, menembus jendela kamar bergorden abu. Ku sipitkan mata menolak silau dan sedikit mengingat ada apa di sabtu pagi ini.
KRING...
Notifikasi muncul dari sebuah aplikasi WhatsApp di handphone yang terletak pada nakas samping tempat tidur. Mataku membelalak ketika membuka room chat WhatsApp, 41 pesan dari kontak yang sama. Aku sungguh lupa kalau hari ini dia akan mengajakku ke suatu tempat, yang entah itu tempat biasa kita makan bersama atau pergi ke MOS untuk menonton film action terbaru.
Dengan cepat Reina si gadis yang punya kebiasaan kesiangan dan pelupa ini bergegas meninggalkan tempat tidur yang serba bernuansa putih. Meraih handuk dan menuju kamar mandi. 08.07, angka yang menunjukkan jam di hanphonende.
“yuk berangkat” ajaku sambil menaiki sebuah motor Honda Beat milik Viko. Viko hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan aneh adik tingkatnya yang satu ini. Kami mulai melaju, mengakhiri 1 jam penantian Viko di depan kamar kost.
Panas, inilah kota Serang. Jangankan pagi menuju siang, sampai malam pun panas selalu setia membersamai. Kurang lebih 40 menit perjalanan, Viko menghentikan kemudinya di sebuah pasar yaitu pasar Cadasari yang berada di Kabupaten Pandeglang. Ia kebingungan melihat aku yang menekuk muka ketika turun dari motornya. Bagaimana tidak, aku kira kita akan pergi ke suatu tempat wisata yang belum aku kunjungi di Pandeglang tapi dia mengajakku berhenti di salah satu pasar saja.
Seketika dia mulai tertawa, lebih tepatnya menertawakan aku sih. Viko meletakan tangannya di puncak kepalaku, mengacak-acak rambut yang memang sudah berantakan karena memakai helm.
“Hahaha jelek tau cemberut gitu” ejeknya yang semakin membuatku kesal, untung aku masih bisa menahan amarah. Tidak tahu saja kalau aku sudah marah ketika on period begini bagaimana.
“yakali aku gak cemberut kak, kakak ngeburu-buru tapi cuman ajak aku ke pasar. Emang kita mau ngapain? Belanja buat bikin kueh hah?” jawabku dengan nada kesal. Tapi bukan merasa bersalah, dia malah semakin terkekeh. Tanpa ada sanggahan untuk ucapanku, dia malah menarikku membawa ke sebuah tempat berjualan makanan.
“Belum sarapan kan tadi? Nih pilih makanan sepuasnya udah itu kita lanjut perjalanan” katanya. Ah aku malu sekali saat ini berada dihadapannya. Tapi rasa maluku hilang saat mata tertuju pada beberapa makanan khas Pandeglang, apalagi yang paling aku suka yaitu Jojorong. Kue yang dibalut daun pisang dengan bentuk menyerupai mangkuk, berbahan dasar tepung beras dan santan kelapa yang didalamnya terdapat gula aren manis, dan yang paling aku suka dari beberapa makanan khas daerah adalah dengan pengolahannya dengan cara dikukus.
Tujuh kue jojorong dan lima kue balok yang juga merupakan makanan khas Pandeglang sudah aku pisahkan dan siap dibungkus. Viko hanya memperhatikan dengan tangan yang dilipat dan menggeleng seperti biasanya saat melihat kelakuanku ini. Dia memang orang yang diam-diam perhatian. Sering kali di kampus pun dia selalu membelikan makan tanpa diminta jika tahu adiknya ini sedang malas memberi asupan pada tubuhnya sendiri.
Berbeda dari 3 jam lalu, kini mataku dimanjakan dengan hijaunya tumbuhan yang berbaris bak pengawal yang sedang mengawal pengendara. Riuh gemuruh angin menyarukan kata yang masing-masing keluar untuk berbincang dalam mengisi panjangnya perjalanan yang masih belum tau arah kemana aku akan dibawanya.
“Oh ini ternyata Pandeglang” dalam hati aku bicara sendiri. Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di Kabupaten Pandeglang, setelah satu tahun lamanya menjalankan kuliah di salah satu Universitas di Provinsi Banten.
“Kak, kita mau kemana sih? Ini ko kayak hutan. Awas ya jangan macem-macem” rengekku untuk yang kesekian kalinya.
“Iya tenang, bukannya kamu bilang kamu sering gelisah dan bad mood tanpa alasan kan? Itu tandanya kamu butuh liburan yang bisa menenangkan pikiran. Jadi aku bakal ajak kamu ke suatu tempat yang bakal bikin pikiran dan perasaan kamu lega” katanya. Aku hanya bisa diam mendengar jawabannya. Tidak ada rasa takut sama sekali sebenarnya, aku bilang takut hanya untuk membuat dia memberi tahu saja kita akan kemana, tapi hasilnya nihil, masih dirahasiahkan. Kami terus melaju memasuki jalan yang rimbun akan pepohonan.
“Sampai” Tanpa sadar, motor yang Viko kendarai terhenti di sebuah parkiran. Aku turun sambil berusaha membuka helm dengan agak kesulitan tapi dia malah jalan duluan.
Aku kira dia tidak akan kembali ke parkiran, tapi ternyata dia hanya menuju warung dipinggir sana yang tak terlalu jauh dari tempat motor terparkir. Viko kembali dengan dua pelampung ditangannya.
“Kakak tau kamu suka ke tempat yang alami, jadi kakak bawa kamu kesini. Curug Putri” katanya sambil mengarahkan telunjuk ke sebuah plang lalu menarik lenganku tanpa aba-aba. Setelah tahu niatnya begitu, tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang. Rasanya aku ingin menghambur memeluk raganya yang berperawakan tinggi itu, tapi untung masih bisa tertahan dengan hanya menmpakkan senyum lebar dan ungkapan terimakasih. Sempat heran sih kenapa menuju curug saja harus menggunakan pelampung dan ditemani pemandu, “sudahlah aku ikuti saja” pikirku sendiri.
Berjalan dan berjalan, kini kaki telah menapak pada jalan berlebar sekitar 1 m yang sering kita kenal jalan setapak. Basah embun dari tumbuhan yang rimbun menyentuh bagian tubuh. Kurang lebih 30 menit menyusuri jalan seperti hutan, kini air menanti dihadapan. Curug Gendang, adalah curug yang dilalui sebelum Curug Putri. Setelahnya, kami mulai diinstruksikan untuk mengenakan pelampung saat akan menyambut air terjun. Karena katanya, ketinggian air mencapai 2 meter yang akan membahayakan jika kita menuju sana tanpa memakai pelampung, apalagi seperti aku yang tidak bisa berenang ini.
Turun perlahan, kini tubuh mulai merespon dinginnya air. Sungguh menyegarkan. Aku sering berpetualang ke alam untuk menikmati keindahannya, termasuk pergi ke beberapa mata air yang disebut curug. Tapi sungguh, ini sungguh berbeda. Tuhan sedang membuka mataku untuk lebih bersukur setelah dipertemukan Curug Putri di Pandeglang ini, indahnya mampu membuat manusia terpesona atas kondisi alami yang ada apalagi dengan tebing seperti diukir yang mengapit aliran mata air dari hulu ke hilir. Tinggi tebing yang menjulang, berlekuk dengan warna alami bebatuan yang kecoklatan natural. Aku kira tebing ini adalah hasil rekayasa manusia, akan tetapi ternyata ini benar-benar karya Tuhan yang maha kuasa. Sungguh pukauan yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata, pantas saja tempat ini dijuluki Little Green Canyon. Intinya sekarang gelisahku telah tergantikan dengan gembira.
Gembiraku sesederhana ini, tidak perlu makan mewah di restauran bintang lima atau berwisata ke tempat yang mahal harganya, cukup dipertemukan dengan alam saja aku sudah bahagia luar biasa.
15.23 WIB, dengan berat hati kami harus beranjak dari tempat yang menentramkan hati dan pikiran. “Pokoknya kita harus kesini lagi, janji yaa” paksaku sambil menggoyahkan bahu Viko. Dia tersenyum dan menaikkan kedua alisnya isyarat menyetujui. Ahh Terimakasih Tuhan aku bahagia sekali hari ini.
***
Bintang yang berkerlip telah lenyap tergantikan mentari. Pagi masih membersamai setiap harap yang tersungkur dibalik tumpukan kata hilang. Dua bulan dari perjalanan bersama sepulang Pandeglang, kini alarm “bangun” dibalik telepon tidak bisa diatur lagi, sebungkus nasi yang selalu disodorkan ketika tidak ingin makan, habis dilahapnya sendiri.
Tertatih memandang getir setiap riak air. Perlahan turun pada aliran yang dalam, menyelami setiap inci kenangan yang pernah terukir. Sekarang, aku sedang menepati kata “harus” untuk kembali di tempat ini (Curug Putri) dibersamai oleh janji yang teringkari. Dua bulan lamanya sudah aku kehilangan seorang Viko. Lebih tepat bukan raganya yang hilang, karena dia selalu tampak dihadapan, melainkan sikap pedulinya yang terbuang. Sekarang kita ada namun tanpa dekat yang lekat dan memiliki sekat tanpa sebab yang jelas.
Walaupun dalam keadaan pahit, tapi tempat ini tetap menjadi tempat terindah dan selalu menenangkan hati. Aku mencintai tempat ini dengan segala bentuk keindahan yang melekat padanya serta setiap kenangan yang dibuatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar