Minggu, 05 April 2020
Diskusi Publik "Film The Bajau"
HIMAGRI! SEMANGAT!!
HIMAGRI! SEMANGAT!!
Diskusi publik dan open donasi untuk masyarakat suku Bajau dengan membedah film berjudul The Bajau dihadiri oleh 150 orang lebih yang berlokasi di Gedung B Auditorium Kampus A Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Penyelenggara acara tersebut ialah Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Untirta.
dalam film The Bajau menceritakan bagaimana kehidupan Suku Bajo saat ini. Bisa dibilang, Suku Bajo adalah satu dari sedikit komunitas masyarakat di Indonesia yang hidup di atas laut. Mereka menjadikan laut sebagai kampung halaman dan perahu sebagai tempat tinggal. Hidup berpindah-pindah di atas sebuah perahu. Suku Bajo sendiri tersebar di Asia Tenggara, tetapi yang cukup menyedihkan adalah kehidupan mereka tidak serta merta diakui. Padahal di Gorontalo, Suku Bajo dapat ditemukan di Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato.
Dalam film tersebut, dijelaskan perbedaan antara suku Bajo yang ada di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara. Suku Bajo di Gorontalo, masih bisa menikmati tangkapan ikan yang melimpah. Sementara di Sulawesi Tenggara, air laut tercemar dan terumbu karang yang rusak akibat pertambangan nikel membuat tangkapan ikan lebih sulit. Dua keluarga Bajo di perairan Sulawesi ini memang menjalani kehidupan yang berbeda. Meski keduanya telah memiliki identitas dan bermukim di daratan, namun satu keluarga yang lain masih memilih menjalaninya hanya sebagai formalitas dan tetap menghabiskan hidup di perahu dalam ekosistem laut yang relatif masih terjaga. Pemerintah, dalam beberapa dekade terakhir, memang mengirim orang Bajo ke daratan. Tujuannya, supaya mereka memiliki identitas, akses bantuan, pendidikan dan lain-lain. Padahal jika ditelaah, Suku Bajo sudah punya tradisi, identitas, dan jati diri di lautan sejak nenek moyang mereka.
Dalam film ini, digambarkan pergeseran kehidupan keluarga Bajo semenjak 13 tahun silam pasca dimukimkan dan dipaksa menjalani peradaban darat. Nasib Suku Bajau yang berada di perairan Konawe, mulai kehilangan sumber mata pencaharian mereka akibat aktivitas pertambangan yang destruktif. Air laut yang mulai keruh, membuat habitat ikan dan terumbu kurang semakin berkurang dan perlahan rusak. Hingga kemudian, mereka memilih masih tetap bertahan dengan kondisi seadanya, mencari penghidupan dari laut.
Hal ini semakin miris ketika pada 2014 lalu, aparat pemerintah menangkap 500 warga Suku Bajo di Kalimantan Timur. Mereka dianggap suku ilegal: Nelayan asing tanpa identitas kewarganegaraan yang mencuri ikan di perairan Indonesia.
Oleh karena itu hasil donasi dari pengkajian film ini seluruhnya kami serahkan kepada pihak yang melakukan perekaman film dokumenter ini dan akan diserahkan kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan juga seidkit menaikan kualitas kesehatan masyarakat disana.
Dari diskusi ini juga lahir banyak opinin pro dan kontra yang sangat berguna untuk mengawal kebijakan pemerintah untuk mensejahterakan dan tetap adil terhadap seluruh masyarakat umumnya dan masyarakat suku Bani khususnya.
Penulis: Kang Adam (ketua pelaksana diskusi publik)
Di publikasikan oleh: Divisi Mading
__________________
For information:
IG : @himagriuntirta
Twitter : @himagri_untirta
Blog: himagri28. blogspot.com
FB : Himagri Untirta Banten
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
SPADA DAN SIAKAD Assalamu'alaikum wr.wb Selamat Pagi Akang dan Teteh Masyarakat Agribisnis Untirta☺️ Kali ini Kastrad Himagri hadir meny...
-
Oleh Departmen Keprofesian, Minat, dan Bakat Lomba Kreasi Olah Pangan 2024: Mendorong Inovasi dan Ketahanan Pangan Lokal Himpunan Mahasiswa ...
-
Oleh Departemen Keorganisasian, Himagri Untirta Pengkaderan merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang pastinya menjadi salah satu program ke...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar